Hasil Penelitian
Hasil penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) lewat uji laboratorium mengungkapkan, 65% makanan jajanan anak memakai pemanis buatan seperti saccharine dengan kadar yang tinggi (di atas 100 ppm), 18% memakai pemanis buatan jenis siklamat dan 47% menggunakan pewarna terlarang seperti Rhodamine B dan Methanile Yellow. Pengujian juga dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di 195 SD dan 18 provinsi di bumi pertiwi ini beberapa waktu lalu dan hasilnya sekitar 48.2% es sirop dan buah dan 62.5% minuman ringan mengandung bakteri berbahaya dan tercemar bakteri patogen. 61.5% saus sambal dan 56.3% kerupuk juga tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi karena mengandung banyak zat-zat berbahaya seperti boraks, formalin, siklamat, saccharine dan benzoat.
Cerita
Tim majalah telah mewawancarai salah satu penjual cilok di sebuah Sekolah Dasar (SD). Nama samarannya adalah Pak Dudu. Kata Pak Dudu, cilot adalah bakso ikan yang ditusuk dengan sapu lidi dan diguyur saus tomat. Bedanya, ukuran cilok dibuat lebih besar (tidak seperti bakso pada umumnya). Untuk satu cilok katanya dijual dengan harga Rp.500,- . Biasanya, anak-anak membeli 2 buah cilok yang cukup untuk mengganjal perut untuk siang hari. Jahatnya, Dudu mencampurkan boraks agar makanan padat dan kenyal saat membuat cilok itu. Bahan-bahan ia gunakan adalah tepung terigu, aci, dan penyedap rasa ikan. Dudu mengaku tidak mencampurkan daging ikan ke dalam makanan itu karena mahal sekali. “Kalau ditambahkan bisa rugi” tuturnya. Read the rest of this entry →